Wednesday, July 7, 2010

Ketika Aku Kecewa PadaNya

Layakkah aku menggugat Tuhan, layakkah aku menyalahkan Tuhan?Layakkah aku mendiamkan Tuhan?Pikiran-pikiran bodoh tak masuk akal itu tiap hari mengerubung di otak. Aku tau aku tak layak "ngambek" padaNya,tapi percaya atau tidak aku melakukannya. Tentu dibalik aksi bodoh tersebut ada faktor yang melatarbelakanginya. Alasan nya klise yaitu karena aku merasa Tuhan itu tidak adil, aku merasa Tuhan itu pilih kasih. Ada bernacam-macam unek-unek serta kekesalan ku padaNya memang, yang walau kusadari aku tak layak menggugatnya tapi tetap kulakukan, 


Kekecawaanku pada hidup ini membuatku menyalahkanNya. Aku kecewa padaNya tiap aku mengalami kegagalan. Aku ngambek layaknya anak kecil karena permintaanku tak dikabulkan. Otak ku yang kecil ini terlampau tak bisa menjangkau logika atas jalan hidup yang Ia berikan padaku. Aku tak sadar akan nikmat udaraNya, nikmat panca indraNya, nikmat sandang-pangan-papanNya,padahal semua nikmatNya kan sungguh tak terhitung?Aneh memang, aku menyadari itu semua tapi tetap aku tak tau diri menggugatNya.
Aku bingung, aku merasa aku telah berusaha, namun mengapa kondisiku tetap stagnan?jalan di tempat. Aku ingin sukses tapi  malah gagal, aku ingin diterima tapi malah ditolak, aku minta yang itu tapi dikasih yang ini, aku ingin membahagiakan keluargaku tapi aku malah menyusahkan mereka. Aku ngga ngerti?? aku coba memahami ayat ini "belum tentu yang baik di matamu baik di mata Allah, dan sebaliknya." terus ku hayati tapi mengapa kok Ia tetap tak memberi kesempatan padaku disaat aku membutuhkannya?huh, mungkin akan banyak orang-orang yang membaca ini, menasehatiku dengan berkata begini"itu karena usaha kamu kurang maksimal kali, percaya aja pasti ada rencana indah yang disiapkan Tuhan untukmu, banyak2 puasa sunnah dan solat Duha, banyak beramal, lihatlah ke bawah, sabar aja, bersakit2 dahulu bersenang2 kemudian, coba kamu baca biograpy Abraham Lincoln",de el el.


Ditengah ombang-ambing kekeliruanku, rasa tak berdayaku, Tuhan yang akhirnya kusadari sayang padaku menjamahku, malah Ia yang mendekatiku duluan ditengah perlawanan pasifku dengan mendiamkanNya. Ia mengajariku, membuatku mengerti melalui media jejaring sosial facebook, melalui catatan yang tak sengaja kubaca, catatan salah satu grup FB yang ku ikuti :

KUE dari ALLAH 
Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, banyak masalah dalam organisasi, dan sahabat terbaiknya tidak dapat mengerti dirinya. Saat ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau mencicipinya, dengan senang hati dia berkata,
“Tentu saja, I love your cake.”
“Nih, cicipi mentega ini,” katanya ibunya menawarkan.
“Yaiks,” ujar anaknya.
“Bagaimana dengan telur mentah?”
“You’re kidding me, Mom.”
“Mau coba tepung terigu atau baking soda?”
“Mom, semua itu menjijikan.” Lalu ibunya menjawab,
“Ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses yang benar, akan menjadi kue yang enak.”

Allah bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa Dia membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi Allah SWT tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dengan rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya. Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita. Allah SWT teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga setiap musim semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.

Aku tersadar,satu kalimat yang bisa ku ucapkan setelah membacanya, "maafkan aku Tuhan.."


Friday, July 2, 2010

Novel Revolt In Paradise

Revolt In Paradise adalah sebuah novel revolusionalis yang belum dan masih saya baca. Saya membelinya di sebuah bazar buku kira2 dua bulan yang lalu,dan sampai detik ini novel itu masih terbengkalai di meja saya, sangat jarang saya sentuh!Hahaha. Hhmm, sebuah rekor sebenarnya, karena biasanya jika saya membeli sebuah novel, paling lama seminggu pasti sudah selesai saya baca. Masalah yang menyebabkan saya agak malas membacanya mungkin karena jujur novel ini cukup "berat" dari segi isi, selain memang saya membeli dalam versi Inggris.Sehingga "beratnya", novel ini terkalahkan oleh "beratnya" buku accounting/buku2 kuliah saya yang lain.Apalagi saya menaruhnya satu tumukan dengan buku2 teks kuliah, sehingga chemistry buku ini terkalahkan oleh buku kuliah saya. Hhaha! Cerita nya sendiri merupakan sebuah autobiography seorang wanita pelukis asal Amerika Serikat yang pernah tinggal selama 15 tahun di Indonesia,khususnya di Bali. Selama kurun waktu itulah,ia terlibat dalam usaha pergerakan kemerdekaan Indonesia. Kisah-kisah perjalanan hidupnya di Indonesia inilah yang ia tuangkan kembali dalam novel "Revolt In Paradise". Bisa dibilang ini adalah sebuah novel sejarah. Untuk resensinya sendiri, saya menemukan di situs ini. Novel ini adalah sebuah novel yang bermutu dan sangat menarik. Dari novel ini kita bisa mengenal langsung sosok K'tut Tantri, yang secara tak langsung, ia merupakan salah satu pahlawan yang berjasa memerdekakan Indonesia. Berikut adalah resensinya sebagai bahan referensi untuk yang berminat membaca novel ini lebih jauh;

(Auto) biography & Memoir, Fiction & Literature Translation of: Revolt in paradise.

“Saya berusaha memaparkan cita-cita bangsa Indonesia pada seluruh rakyat di dunia – yaitu kemerdekaan, hak untuk membangun negara sendiri. Saya juga ingin menandaskan pada Belanda – dan sedikit banyak juga pada Inggris – mengenai kesalahan besar yang mereka lakukan selama ini.” (hal 242)

Kalimat itu diucapkan oleh K’tut Tantri kepada para wartawan dari dalam dan luar negeri yang mewawancarinya perihal keterlibatannya dalam menyebarluaskan kemerdekaan Indonesia melalui corong Radio Pemberontak.

K’tut Tantri adalah nama lain dari seorang wanita warga negara Amerika keturunan Inggris yang pernah tinggal lima belas tahun di Indonesia dari 1932-1947. Awalnya K’tut Tantri yang hobi melukis ini tak puas dengan pekerjaannya sebagai seorang jurnalis di Amerika Serikat. Ia memiliki jiwa petualang yang membuatnya selalu ingin berkelana ke tempat-tempat jauh sambil melukis apa yang dilihatnya. Keinginannya semakin membuncah ketika ia menonton film berjudul Bali, The Lost Paradise. Seolah menemukan jalan hidupnya ia segera menuju Bali dan memutuskan untuk menetap disana.

Takdir membawanya bertemu dengan Raja Bali yang mengangkatnya menjadi anak keempat dan memberinya nama baru ‘K’tut Tantri’. Perilaku masyarakat Bali membuat dirinya kerasanan untuk tetap tinggal disana, iapun membangun sebuah hotel di Kuta untuk membiayai hidupnya, bukan hal yang mudah karena pemerintahan kolonial Belanda tak menyukai dirinya bergaul rapat dengan penduduk setempat. Ia juga melihat bagaimana penduduk Bali harus hidup dalam kemiskinan akibat sistem kolonial yang mengabaikan kesejahteraan tanah jajahannya. Anak Agung Nura, putera Raja Bali menggerakkan hatinya untuk turut dalam kancah politik guna menentang pemerintahan Belanda.

Di zaman pendudukan Jepang, K’tut Tantri ikut dalam gerakan bawah tanah guna menumbangkan kekuasaan Jepang. Malang nasibnya karena ia ketahuan oleh Kampetai dan dipenjara selama kurang lebih dua tahun, disiksa dan dianiyaya melebihi atas-batas peri kemanusiaan.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, ia turut berjuang bersama-sama Bung Tomo dalam menyuarakan kemerdekaan indonesia di Radio Pemerontak –Surabaya. Kemudian bekerja untuk Kementerian Penerangan dan Pertahanan di Jogya. Tugasnya antara lain menyebarluaskan informasi keadaan Indonesia dalam bahasa Inggris dalam pidato radio, menembus blokade Belanda menuju Singapura, menyeludupkan utusan Liga Arab masuk Indonesia dan akhirnya menuju Australia guna mencari dukungan internasional.

Seluruh kisah kehidupannya diatas itulah yang ia tuangkan dalam novel dokumenternya Revolt in Paradise yang pertama kali diterbitkan oleh New York Harper, USA pada tahun 1960. Dalam bukunya ini K’tut Tantri membagi kisahnya dalam tiga bagian besar yang meliputi periode 1932-1941 (Melanglang Buana), 1942-1945 (Firdaus Yang Hilang), dan 1945-1948 (Berjuang demi Kemerdekaan).

Di bagian pertama (Melanglang Buana) pembaca akan diajak melihat keeksotisan natural penduduk Bali yang terekam dengan baik, ketika ia untuk pertama kalinya menyusuri Bali dengan mobilnya ia melihat bahwa; Di sepanjang jalan maupun di sawah, para wanita dengan polos memperagakan payudara yang sintal sementara mereka berjalan beriringan sat-satu sambil menjunjung beban yang tidak kecil ukurannya di atas kepala (hal 25)

Sedangkan kehidupan dalam puri raja anak Agung Gede Agung beserta kegiatannya juga terekam dengan menarik dalam buku ini. Tak hanya itu dalam buku inipun pembaca akan mendapat gambaran mengenai pandangan pemerintahan kolonial terhadap masyarakat Bali, hal ini terungkap dalam percakapan seorang asisten kontrolir Belanda pada K’tut Tantri menanggapi keinginan K’tut Tantri untuk tinggal bersama masyarakat Bali. “Jika Anda mencoba hendak hidup seperti orang Bali, pengaruhnya akan buruk sekali terhadap pribumi dan hormat mereka terhadap orang kulit putih. Percayalah pemerintah kolonial pasti tidak suka. (hal 31)

Berbagai cerita menarik terungkap di bagian ini, selain pesona keindahan budaya Bali bagian ini juga mengungkap sepak terjang K’tut Tantri ketika ia berusaha untuk mewujudkan impiannya dengan mendirikan hotel di daerah Kuta Bali walau hal ini tidak mudah karena ditentang dengan keras oleh pemerintah Belanda.

Di bagian kedua (Firdaus Yang Hilang) pesona dan keindahan alam Bali tak lagi terceritakan, dimulai dengan kisah masuknya Jepang ke pulau Bali, dibagian ini pembaca akan disuguhkan dengan kisah tragis yang dialami oleh K’tut Tantri selama ia berada dalam tawanan Jepang di Surabaya. Penjara yang kotor dan siksaan yang diluar perikemanusiaan harus dialaminya karena ia dituduh sebagai mata-mata Amerika. Meringkuk dalam penjara pun bukan main menderitanya karena sepanjang hari, dari pukul enam hingga pukul sembilan malam para tawanan tidak diizinkan untuk duduk, melainkan harus berlutut, tak peduli betapa nyerinya otot-otot mereka. (hal 160). Belum lagi siksaan-siksaan keji saat interogasi dimana K’tut Tantri harus ditelanjangi, diikat, dipukul dan digantung hingga sendi-sendinya hampir putus hingga beberapa kali jatuh pingsan.

Pada bagian ketiga (Berjuang demi Kemerdekaan), kisah dalam buku ini semakin menarik dan menegangkan karena selepas dari tawanan Jepang K’tut Tantri bergabung dengan para pejuang kemerdekaan di bawah pimpinan Bung Tomo. Ia bertugas meyampaikan perkembangan yang terjadi di Indonesia dalam bahasa Inggris melalui siaran Radio Pemberontak dimana di tempat ini juga Bung Tomo mengadakan siaran dua kali setiap malam untuk membakar semangat pejuang-pejuangnya. Kesannya ketika bertemu dengan Bung Tomo terungkap sbb : Orangnya tampan, bertubuh kecil. Umurnya saat itu paling banyak baru 26 tahun. Tindak-tanduknya menarik, selalu sederhana serta polos. Sinar matanya berkilat-kilat penuh semangat. Kemahirannya berpidato hanya bisa dikalahkan oleh Presiden Sukarno. (hal 223)

Selain dengan Bung Tomo, bagian ini mengisahkan pula pertemuan dan persahabatannya dengan tokoh-tokoh kemerdekaan Indonesia, antara lain Amir Syarifudin, dan Presiden Soekarno. Bahkan ia sempat diminta untuk membuat naskah pidato radio bahasa Inggris yang akan dibacakan oleh Presiden Soekarno. Kesan terhadap pertemuannya dengan Presiden Soekarno membuat Kut Tantri menulis dalam buku ini bahwa Presiden Soekarno adalah sosok yang pandai mengambil hati wanita, memiliki selera humor yang tinggi, rendah hati dan amat mencintai ibunya (hal 245)

Hal menarik lainnya adalah bagaimana serunya ketika K’tut Tantri berusaha membongkar usaha sebuah komplotan untuk menjatuhkan Bung Karno, atau ketika ia menerima tugas untuk berangkat menuju Australia guna mencari dukungan internasional. Selain diajak merasakan ketegangan yang dialaminya berbagai kisah-kisah menarik juga tersaji dalam bagian ini, seperti ketika ia dibuatkan paspor Indonesia dengan nomor urut 1 yang berarti merupakan paspor pertama yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia. Pengalamannya bertemu dengan orang-orang Indonesia di Singapura sebelum berangkat menuju Australia juga terungkap di bagian ini. Salah satu yang menarik sekaligus ironis mungkin pengalamannya menemui kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh pedagang-pedagang asal Indonesia, hal ini membuat hatinya pedih karena sementara para koruptor asal indonesia hidup dalam kemewahan, ribuan rakyat jelata di Indonesia, yang bertempur dengan pakaian compang-camping, berjuang penuh lumpur dengan bersenjatakan golok dan bambu runcing untuk mempertahankan kemerdekaan (hal 328).

Kisah K’tut Tantri dalam buku ini berakhir ketika ia kembali ke New York, Amerika Serikat, ia berada di negaranya sendiri, namun hatinya merasa hampa dan rindu pada Indonesia yang merupakan tanah air keduanya. Kerinduan dan rasa cintanya pada Indonesia inilah yang menggerakkan dirinya untuk membuat memoar yang kemudian diterbitkan dengan berjudul Revolt in Paradise (1965). Tak disangka buku ini mendapat respon yang baik dari pembacanya baik di negaranya maupun di dunia internasional, sedikitnya buku ini telah diterjemahkan lebih dari 15 bahasa dunia.

Di tahun 60-an, K’ut Tantri mengunjungi Indonesia dan diterima oleh para pejabat pemerintahan termasuk oleh Presiden RI Soekarno. Di tahun 1965 buku Revolt in Paradise untuk pertama kalinya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan diterbitkan oleh Penerbit Gunung Agung dengan judul Revolusi di Nusa Damai. Rupanya cetakan pertama buku ini mendapat sambutan yang baik, terbukti hanya dalam waktu 6 bulan.buku ini dicetak ulang. Tahun 1982 hak cipta buku ini diambil alih oleh Gramedia dan dicetak dalam dua versi bahasa (Inggris dan Indonesia). Dan kini buku tersebut kembali dicetak ulang dengan kemasan baru dengan cover yang menggambarkan wanita kulit putih yang menggenakan pakaian tadisional Bali.

Buku yang kembali diterbitkan ulang oleh Gramedia ini memang sudah seharusnya hadir dan dibaca oleh masyarakat Indonesia mengingat nama K’tut Tantri kini telah dilupakan orang. Yang agak disayangkan adalah tidak adanya foto K’tut Tantri dalam buku ini. Tentunya karena buku ini bukan sekedar kisah fiksi dan K’tut Tantri bisa dikatakan sebagai salah satu pelaku sejarah di masa-masa revolusi kemerdekaan Indonesia, pemuatan foto K’tut Tantri tentunya akan memberi bobot sejarah yang lebih dalam pada buku ini. Tentunya bukan hal yang sulit untuk memperoleh foto diri K’tut Tantri, apalagi jika kita melihat cetakan tahun 1965, di buku tersebut disajikan beberapa buah foto K’tut Tanri termasuk ketika ia diterima oleh Presiden Soekarno di tahun 60-an.

Sejumlah kesalahan ketik ditemui dalam buku ini. Tidak terlalu mengganggu namun menimbulkan kejanggalan karena biasanya buku-buku terbitan Gramedia ‘bersih’ dari kesalahan-kesalahan ketik.

Namun sekali lagi usaha penerbit untuk menerbitkan ulang buku ini patut dihargai setinggi-tingginya. Setidaknya, kini nama K’tut Tantri, salah seorang Indonesianis yang terlupakan, yang telah banyak berjasa dalam menyuarakan kemerdekaan indonesia bisa kembali dikenang oleh rakyat Indonesia yang pernah diperjuangkannya.

K’tut Tantri, yang juga dikenal dengan julukan ‘Soerabaja Sue’ meninggal dunia di usianya yang ke 89 di Sydney Australia pada tahun 1997. Kecintaannya pada Indonesia dibawanya hingga mati. Peti matinya ditutup bendera Merah Putih berhias warna khas Bali. Jasadnya dikremasi di Bali dan abunya ditebar disana.

Mungkin saja orang Indonesia akan melupakan diriku apabila negara itu sudah benar-benar merdeka. Kenapa tidak? Aku kan hanya ombak kecil di tengah alun banjir semangat kemerdekaan. (K’tut Tantri, hal 355)

Tuesday, June 29, 2010

Joey Mcintyre - Stay The Same



Friday, June 25, 2010

Aku dan Kucing

Tulisanku kali ini akan mengupas tentang kucing. Jika mungkin ada yang bertanya-tanya mengapa tentang kucing?jawabannya simple, yaitu karena aku suka kucing dan di rumah memang memelihara seekor kucing jantan. Sempat sebelum memelihara kucing yang sekarang, setahun yang lalu memelihara kucing betina, tapi ya ampun jangan ditanya dukanya memelihara kucing betina, jawabannya pasti kekesalan karena aktifnya bereproduksi alias BERANAK mulu.Hahaha. Oleh sebab itu kucing yang dulu ini [sekarang udah mati] diberi nama oleh mamaku "Jablay". Ckckc,mamaku memang jagonya deh,klo urusan ngasih nama kucing. :D

Dari kecil aku memang sudah akrab dengan binatang mamalia yang satu ini, sebab sebelum mengandung aku, mama dan nenekku memang sudah memelihara kucing yang dipungutnya dari jalanan. Oleh mereka kucing ini diberi nama "Pungut".[kan udah aku bilang klo mamaku jago ngasih nama kucing ;D]. Nah karena dipungut dari kecil, maka tak heran si kucing Pungut ini tuh nurut banget, kelakuannya udah seperti Garfield yang di film deh, patuh dan cerdik. Itu menurut pengakuan mama dan nenekku sih,secara aku juga masih orok waktu itu, jadi ga tau pastilah.:P Nah karena aku punya penyakit asma yang sering kumat waktu kecil, alhasil itu kucing dicurigailah sebagai faktor pemicu, yah mau ga mau segala jenis kucing diungsikan dari kehidupanku untuk sementara.

Berawal dari kenyataan tersebut aku pun ingin mencari tahu tentang seluk-beluk kucing, terutama tentang mitos yang ada pada kucing. Khusus masalah ketertarikan terhadap mitos kucing terjadi ketika aku menonton film Cat Women karena disitu sempat ada scene yang menyinggung mitos berkaitan dengan kucing. Aku sendiri sebagai muslim pun diceritakan bahwa kucing adalah binatang kesayangan Nabi Muhamma SAW. Aku sih percaya bahwa nabi menyayangi semua binatang di bumi, mungkin karena dikisahkan bahwa nabi memiliki kucing yang bernama Muezza maka tersebarlah cerita jika binatang kesayangan Nabi Muhammad adalah kucing. Sebagai masyarakat Indonesia, kita juga tak bisa lepas dari mitos yang berkembang di masyarakat mengenai kucing, Kita diyakini jika sedang mengendarai kendaraan tidak boleh menabrak kucing, kalaupun tak sengaja menabrak maka jasad kucing tersebut harus dikuburkan secara layak untuk menghindari terkena sial atau celaka.

Setelah mencari-cari di google akhirnya aku menenukan artikel di wikipedia tentang kucing. Sebagai gambaran bagi kalian yang kebetulan membaca tulisanku ini, artikel aku copas sebagian. Silahkan dibaca sekelumit kisah tentang kucing dari aspek budaya..


Pada masa silam diyakini bahwa nenek moyang kucing adalah Miacis, binatang liar pada masa Eosen yang sosoknya mirip musang, kira-kira 50 juta tahun silam.
Catatan paling awal tentang usaha domestikasi kucing adalah sekitar tahun 4000 SM di Mesir, ketika kucing digunakan untuk menjaga toko bahan pangan dari serangan tikus. Namun, baru-baru ini dalam sebuah makan di Shillourokambos, Siprus, bertahun 7500 SM, ditemukan kerangka kucing yang dikuburkan bersama manusia. Karena tikus bukanlah hewan asli Siprus, hal ini menunjukkan bahwa paling tidak pada saat itu, telah terjadi usaha domestikasi kucing. Kerangka kucing yang ditemukan di Siprus ini mirip dengan spesies kucing liar yang merupakan nenek moyang kucing rumahan saat ini. [1] [2].


Sebuah topeng perunggumumi kucing di Mesir digunakan dalam pemakaman kuno.


Pada tahun 1.800-an ditemukan suatu kuburan atau tepatnya "situs" berisikan 300.000 mumi kucing dalam keadaan masih utuh, yang menandakan dahulu kucing memang suatu hewan yang spesial. Orang Mesir kuno menganggap kucing sebagai penjelmaan Dewi Bast, juga dikenal sebagai Bastet atau Thet. Hukuman untuk membunuh kucing adalah mati, dan jika ada kucing yang mati kadang dimumikan seperti halnya manusia.
Di abad pertengahan, kucing sering dianggap berasosiasi dengan penyihir dan sering dibunuh dengan dibakar atau dilempar dari tempat tinggi. Beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa takhyul seperti inilah yang menyebabkan wabah Black Death menyebar dengan cepat. Black Death diperkirakan merupakan sebuah wabah penyakit pes di Eropa pada abad ke-14. Cepatnya penyebaran wabah ini menyebabkan banyak orang waktu itu percaya bahwa setanlah yang menyebabkan penyakit tersebut. Pernyataan Paus menyebutkan bahwa kucing yang berkeliaran dengan bebas telah bersekutu dengan setan. Karena pernyataan ini, banyak kucing dibunuh di Eropa pada saat itu. Penurunan jumlah populasi kucing menyebabkan meningkatnya jumlah tikus, hewan pembawa penyakit pes yang sesungguhnya.
Saat ini, orang masih percaya bahwa kucing hitam adalah pembawa sial sementara ada yang percaya bahwa kucing hitam justru membawa keberuntungan. Kucing juga masih diasosiasikan dengan sihir. Kucing hitam sering diasosiasikan dengan Halloween. Penganut wicca dan neopaganisme yang lain mempercayai bahwa kucing sebenarnya baik, mampu berhubungan dengan dunia lain, dan dapat merasakan adanya roh jahat.
Di Asia, kucing termasuk ke dalam salah satu zodiak Vietnam. Namun kucing tidak termasuk ke dalam zodiak Tionghoa. Menurut legenda, ketika Raja Langit mengadakan pesta untuk hewan yang akan dipilih menjadi zodiak, ia mengutus tikus untuk mengundang hewan-hewan yang telah dipilihnya. Bagian cerita ini dikisahkan dalam berbagai versi, tikus lupa untuk mengundang kucing, tikus menipu kucing mengenai hari pesta, dan berbagai variasi lainnya. Pada akhirnya kucing tidak hadir dalam pesta itu, tidak terpilih menjadi hewan zodiak, sehingga memiliki dendam kesumat pada tikus.
Dalam syariat Islam, seorang muslim diperintahkan untuk tidak menyakiti atau bahkan membunuh kucing, berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari kisah Abdullah bin Umar[1] dan Abu Hurairah.[2]
Hukum menjual dan membeli kucing pun dalam syariat Islam adalah haram hukumnya berdasarkan dalil hadits Nabi Muhammad dan kaidah fiqih (al-qawa’id al-kulliyah). Dalil hadits Muhammad, diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah bahwasanya sang Nabi telah melarang memakan kucing dan melarang pula memakan harga kucing.[3] Hadits Muhammad itu menjadi dalil haramnya memakan kucing dan memperjual-belikan kucing. Jadi Umat Islam diharamkan untuk memperdagangkan kucing sebagaimana mereka diharamkan memakan daging kucing.[4]


Sebagai penutup dari tulisan mengenai kucing ini,dimohon izinkanlah sang empunya blog pamer photo dengan kucingnya.[Narsiz dikit, boleh donk??Haha].



                                            
                  Kucingku sekarang, diberi nama "Omen".


                                                    
                              Hahay,Pic of Me and My Kitty






                                        
          Wadoh, nih kucing sok jual mahal klo diajak narsiz.Hehe



Last pic. [Ketara banget klo yang pengen eksis emang majikannya.] :P

Wednesday, June 23, 2010

Hidup

Hidup adalah rangkaian-rangkaian puzzle, dimana kita harus mencari setiap kepingan gambar dan mencocokkannya agar menjadi satu gambaran utuh.

Hidup adalah sebuah perjalanan panjang dimana kita tak tahu kapan perjalanan ini akan berakhir, dimana kita tak bisa memilih rintangan mana yang akan menghalangi kita di sepanjang jalan

Hidup adalah sebuah rahasia paling misterius yang diberikan Tuhan. 

Hidup adalah sebuah persinggahan sementara, tempat kita mengumpulkan bekal untuk mencapai tujuan akhir yang abadi

Hidup adalah sebuah percampuran rasa antara pahit,manis,asam,dan asin.

Hidup adalah lembaran kertas-kertas, dimana setiap hari kita menulisi tiap lembarnya dengan cerita yang berbeda

Hidup adalah sebuah panggung teater, sehingga setiap dari kita harus berlatih menghayati perannya masing-masing untuk bermain di atas panggung ini

Hidup adalah pertentangan logika antara AKU dan KAMU



Motivasi Psikologi Menonton Video Ariel

Sudah sebulan terakhir ini,pemberitaan di media didominasi oleh perkembangan kasus video mesum Ariel Peterpan, Dampak dari peredaran video mesum tersebut memang sangat menghebohkan. Respon masyarakat pun beragam,entah itu memberi dukungan kepada Ariel agar tabah menghadapi masalah atau mencela dengan mengatasnamakan kepedulian terhadap moral bangsa. Tak tanggung-tanggung, orang nomor satu di Indonesia,Presiden SBY pun ikut angkat bicara mengomentari dampak beredarnya video tersebut.

Malahan tak hanya itu videonya sendiri kini laris manis diburu masyakat yang penasaran ingin melihat adegan mesum itu, bahkan VCD bajakannya yang dijual bebas di pedagang kaki lima dibanderol harga fantastis mencapai 200ribuan per keping, Hal ini jelas menunjukkan antusiasnisme masyarakat untuk menyaksikan atau memastikan secara langsung kebenaran adegan tak senonoh yang diperankan tiga artis terkenal ibukota itu. Hal ini tertuang dalam situs berita online berikut,