Friday, June 18, 2010

Akhirnya Tau Juga

Akhirnya setelah setahun bingung, pertanyaanku tentang pajak yang dipungut oleh restoran terjawab sudah. [payah, mahasiswi pajak yang menyedihkan.haha]. Gini2, pada nyadar donk,ketika kita membeli makanan/minuman di restoran, selain harga jual yang tercantum kita juga diwajibkan membayar pajak sebesar 10%? Nah di struk-nya pasti tertulis tambahan PPN 10%,kan? sebenarnya salah kaprah tuh. Emang sih, angka "10%" nya itu yang bikin orang2 terkecoh coz emang PPN sendiri menerapkan tarif tunggal 10%. Nah pertama aku juga manggut2 gitu, aku pikir itu adalah PPN, sampai aku belajar perpajakan di semester 3, tahun lalu. Di UU PPN dan PPnBM sendiri baik yang lama[tahun 2000] dan yang baru [tahun 2009], disebutkan jika jenis barang yang tidak dikenakan PPN adalah antara lain, "makanan dan minuman yang disajikan di hotel, rumah makan, warung dan sejenisnya [untuk menghindari pajak berganda karena sudah termasuk obyek pajak daerah]. Nah saat itu, di pikiranku lansung ada yang ngganjel."kok tiap aku beli makanan/minuman di restoran di struknya ada tambahan lagi PPN 10%? Lah klo kaya gitu bukannya mestinya ga ada tuh PPN-PPN-an?jelas-jelas di UU-nya diatur begitu". Yah, tapi oleh berbagai sebab, pertanyaan yang menganjal di kepala itu, urung aku tanyakan ke dosen, baru kemarin ketika aku sedang iseng menonton televisi,tanpa sengaja terwajablah sudah keganjalan itu. [ada iklan ditjen pajak]

Jadi, sebenarnya kita kemarin2 tuh salah kaprah menamai pajak yang dipunggut di restoran. Pajak tersebut, harusnya namanya itu PB1, singkatan dari Pajak Pembangunan. Tarifnya memang sama dengan PPN yaitu sebesar 10%. Nah pajak ini dipunggut untuk kas Pemda, sedangkan PPN yang umum dipunggut untuk disetor ke kas negara, Sudah jelaskah?? Jadi bagi para pengusaha kuliner sekarang struk-nya diganti ya, jangan PPN lagi tetapi PB1. INGAT, ORANG BIJAK TAAT PAJAK, *alah. Hehe

0 comments: